Bertempat di Bogor, Tim PON DKI Jakarta Berlatih Intensif Bersama Petinju Johor Malaysia
Monitorbogor.com – Sebanyak 10 petinju, yang terdiri dari empat putri dan enam putra, yang tergabung dalam Tim PON DKI Jakarta telah menyelesaikan sesi latihan bersama petinju asal Johor, Malaysia. Latihan ini berlangsung selama hampir dua minggu di pusat latihan tinju HS Boxing Camp, Ciseeng, Bogor, Jawa Barat.
“Latihan bersama dengan petinju dari Johor sudah kami tutup pada Kamis sore. Ini sangat bermanfaat menjelang PON Aceh-Sumut,” kata pelatih kepala Husni Ray pada Jumat malam, 9 Agustus 2024.
Husni Ray, yang juga peraih medali perunggu pada PON XI/1985 Jakarta, menambahkan bahwa latihan ini sangat membantu meningkatkan kepercayaan diri para petinju. “Semua petinju PON DKI mendapatkan latih tanding yang berkualitas saat menghadapi petinju tamu dari Johor, Malaysia,” tambahnya.
Latih tanding terakhir yang digelar pada Kamis sore menampilkan pertarungan menarik. Partai pertama dibuka dengan duel antara Matius Mandiangan melawan Sandiyarto Peroza dari Tim PON DKI, diikuti oleh Aziqa dari Tim Johor, Malaysia, dan ditutup dengan pertarungan antara Jil Mandagie dari Tim PON DKI.
Dalam sembilan ronde tersebut, Mandiangan aktif melancarkan serangan jab-straight, long hook, dan upper cut yang beberapa kali berhasil mengenai tubuh lawannya. Namun, ia juga harus menerima serangan balik yang agresif dari lawan-lawannya, terutama petinju asal Malaysia yang cenderung tampil sebagai fighter dengan strategi menyerang dari jarak dekat.
Matius Mandiangan, yang telah berkarir di dunia tinju amatir selama 16 tahun, memiliki rekam jejak impresif di ajang PON. Pada PON XVIII/2012 di Riau, ia berhasil merebut medali emas kelas ringan untuk Sulawesi Utara. Setelah pindah domisili ke DKI Jakarta, Mandiangan merebut medali perunggu kelas ringan pada PON XIX/2016 di Jawa Barat, meskipun kemenangan tersebut tidak lepas dari kontroversi.
Di PON XX/2020 Papua, ia kembali mengukir prestasi dengan meraih medali emas di kelas ringan. Menatap PON keempatnya di Aceh-Sumut, Mandiangan bertekad untuk turun di kelas welter dengan target meraih medali emas. “Persaingan pasti akan lebih ketat, tetapi saya tetap fokus mengejar medali emas,” ujarnya. Sebagian dari bonus yang ia terima dari prestasi di PON sebelumnya telah ia gunakan untuk membeli tanah dan membangun rumah di kampung halamannya di Sulawesi Utara.
Dalam sesi latihan tersebut, partai lain yang tak kalah menarik menampilkan Aldoms Suguro melawan Aiman dari Johor, Malaysia, dalam tiga ronde. Suguro, yang dikenal dengan serangan one-two cepatnya, berhasil membuat lawannya beberapa kali terkejut. Aldoms Suguro sendiri merupakan pemegang medali perak di kelas terbang pada PON Jabar dan Papua. Menjelang PON Aceh-Sumut, Suguro didorong untuk turun di kelas bantam.
Di sisi lain, petinju wanita andalan DKI Jakarta juga tak mau ketinggalan. Wajah baru di tim, Nurul Nukuhehe yang turun di kelas ringan, berhadapan dengan Sindy Muhammad Zen dari kelas terbang. Meskipun berbeda tiga kelas, Sindy berani melakukan jual beli pukulan dengan Nurul, yang mendapatkan tepuk tangan meriah dari para penonton di sekitar ring.
Sementara itu, Ratna Sari Devi, andalan DKI Jakarta di kelas bulu dan seorang prajurit wanita Angkatan Darat, menunjukkan permainan yang stabil baik dalam jarak dekat maupun panjang saat berhadapan dengan Lindasari Langi. Ratna mampu mengantisipasi serangan lawannya dengan baik, menunjukkan kesiapan penuh menjelang PON Aceh-Sumut.
Latihan intensif ini diharapkan dapat meningkatkan performa dan mental para petinju PON DKI Jakarta menjelang kompetisi yang akan datang di Aceh dan Sumut. (Rls)