Kabupaten Bogor

Bincang Kritis Ruang Kreatif Bogor, Refleksi dan Resolusi Kesenian di Sawala Dasa Wacana #8

Monitorbogor.com — Forum diskusi kebudayaan Sawala Dasa Wacana kembali digelar di Saung Saidun Hamdanah, Kompleks Edukasi Putra Bangsa. Memasuki edisi ke-8, forum yang rutin berlangsung setiap tanggal 10 ini mengangkat tema “Menimbang Atmosfir Kreatif Kesenian Bogor 2025, Menuju Resolusi 2026.”

Kegiatan tersebut menghadirkan tiga narasumber, yakni Putra Gara (Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Bogor), Aan Handayani (musisi dan pegiat seni Kota Bogor), serta Rahmat Iskandar (pemerhati seni budaya dan sejarah Bogor). Diskusi dipandu oleh Heri Cokro selaku tuan rumah.

Sekitar 25 peserta hadir dari berbagai komunitas, antara lain Bogor Wanita Berkebaya (BWB), KPJ Merdeka Bogor, Komunitas 50+ Cabang Bogor, pewarta media, serta relawan Daya Putra Bangsa.

Dalam pengantar diskusi, Heri Cokro menegaskan bahwa Bogor sebagai kota penyangga ibu kota dengan kekayaan budaya Sunda memiliki potensi kesenian yang besar. Sepanjang 2025, geliat kreativitas tumbuh dari komunitas, sanggar, hingga ruang-ruang alternatif berbasis warga. Namun, menurutnya, potensi tersebut belum terintegrasi dalam ekosistem yang kuat dan berkelanjutan.

“Minimnya ruang temu, belum optimalnya dukungan kebijakan, keterbatasan akses pembiayaan, serta lemahnya regenerasi seniman menjadi persoalan laten yang memengaruhi atmosfer kreatif di Bogor. Padahal, di era digital, peluang jejaring dan kolaborasi lintas sektor terbuka sangat luas,” ujarnya.

Memasuki 2026, lanjut Heri, diperlukan ruang reflektif yang mampu menimbang secara jujur kondisi kesenian Bogor sepanjang 2025 sekaligus merumuskan resolusi bersama agar kesenian benar-benar menjadi fondasi kebudayaan kota dan daya ungkit ekonomi kreatif masyarakat.

Putra Gara dalam paparannya menilai bahwa pertumbuhan komunitas seni di Bogor justru banyak lahir dari ruang-ruang alternatif dan inisiatif mandiri. “Semangat kolektif dan eksperimentasi menjadi ciri utama,” katanya. Namun, ia menggarisbawahi bahwa geliat tersebut masih rapuh karena keterbatasan ruang berekspresi, minimnya dukungan berkelanjutan, serta belum terbentuknya ekosistem yang berpihak pada proses kreatif.

Menurut Putra, kesenian di Bogor kerap hadir sebatas agenda seremonial, tampil pada momentum tertentu tanpa ditopang keberlanjutan yang memadai bagi kehidupan para pelaku seni. “Padahal, kesenian seharusnya menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, bukan sekadar pelengkap acara,” tegasnya.

Diskusi yang berlangsung dalam format melingkar itu juga menyingkap adanya jarak antara komunitas seniman dan birokrasi. Relasi keduanya masih diliputi saling prasangka. Seniman menilai birokrasi bekerja kaku dan kurang peka, sementara birokrasi belum sepenuhnya memahami peta potensi kesenian di wilayahnya.

“Sikap saling curiga ini membuat dialog kebudayaan sering berhenti di permukaan,” ujar Prasetya, salah satu peserta diskusi. Ia menilai, tanpa keterbukaan dan kepercayaan, kebijakan kebudayaan berisiko lahir tanpa pijakan realitas lapangan.

Dari perspektif lain, Aan Handayani mengajak peserta membaca fenomena kesenian dari pintu masuk peristiwa ekonomi. Menurutnya, saat ini eksistensi kesenian tidak lagi semata ditentukan oleh produktivitas dan idealisme, tetapi oleh momentum ekonomi, seperti ajang pencarian bakat di televisi.

Ia juga menyoroti munculnya generasi baru—khususnya Gen Z—yang berkarya tanpa beban idealisme tradisional. Mereka hadir sebagai selebgram, tiktokers, dan konten kreator yang diakui sebagai peristiwa seni karena kekuatan viralitas. “Dari sini, definisi karya seni berubah, tumbuh dalam beragam bentuk, dan menjadi anutan baru dalam berkarya,” tutup Aan.

Sementara itu, Rahmat Iskandar menyoroti masih terpinggirkannya sektor kebudayaan sejak dini. “Cita-cita menjadi seniman sering dianggap jalan menuju kemiskinan. Mindset ini terbawa hingga ke pemerintahan, sehingga kebudayaan kerap menjadi bidang dengan anggaran minim dan bukan prioritas,” ungkapnya.

Meski menyadari bahwa pembacaan dalam forum tersebut belum sepenuhnya mewakili kondisi Bogor secara utuh, Sawala Dasa Wacana edisi ini diposisikan sebagai ruang temu dan refleksi dengan semangat silih asih, silih asah, silih asuh.

Diskusi ditutup tanpa kesimpulan final. Namun satu catatan mengemuka: jika kesenian ingin benar-benar tumbuh dan berkelanjutan di Bogor, maka relasi antara seniman, masyarakat, dan birokrasi harus bergerak melampaui saling menduga, menuju dialog yang terbuka dan saling menguatkan. (Rls)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *