Release

Capaian Pangan Terselamatkan Meningkat Delapan Kali Lipat dalam Tiga Bulan, Bapanas Perkuat Kolaborasi

Monitorbogor.com — Badan Pangan Nasional (Bapanas) terus membuka ruang kolaborasi dengan berbagai pihak untuk memperkuat ketahanan pangan nasional. Salah satunya melalui sinergi dengan kalangan akademisi yang memiliki peran strategis dalam mendukung ketersediaan pangan dan pemenuhan gizi masyarakat.

Salah satu program unggulan Bapanas yang membutuhkan kolaborasi adalah Gerakan Selamatkan Pangan dan kampanye Stop Boros Pangan. Gerakan ini bertujuan menekan susut dan sisa pangan, sekaligus menjadi bagian dari upaya pencegahan kerawanan pangan di masyarakat.

Untuk diketahui, per November 2025 Bapanas mencatat penyelamatan pangan tercapai di angka 224 ton pangan yang berhasil disalurkan kepada 456 ribu lebih penerima manfaat. Gerakan yang diinisiasi sejak 2022 ini kini telah menjangkau 17 provinsi.

Berkat kolaborasi yang erat, Bapanas terus mengakselerasi GSP. Alhasil, pada minggu ketiga Januari 2026 capaian pangan yang berhasil diselamatkan meningkat pesat hingga delapan kali lipat.

Data terbaru menunjukkan jumlah pangan yang berhasil diselamatkan sebesar 1.900 ton dengan penerima manfaat sebanyak 2,9 juta orang. Jumlah pelaku usaha yang berpartisipasi pun meningkat hingga 70 pendonor pangan berlebih.

“Badan Pangan Nasional sangat mendukung kolaborasi pemerintah dengan berbagai pihak, termasuk akademisi. Keilmuan yang relevan tentu bisa disinergikan untuk memastikan ketersediaan pangan dan kualitas konsumsi masyarakat agar perilaku boros pangan dapat semakin dikurangi,” papar Direktur Kewaspadaan Bapanas Nita Yulianis dalam Gathering Civitas Akademika Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) IPB University di Bogor, Sabtu (31/1/2026).

Untuk itu, Bapanas terus memperluas langkah konkret dalam memperkuat ketahanan pangan nasional melalui Gerakan Selamatkan Pangan (GSP). Gerakan ini menunjukkan bahwa kemampuan mengelola pangan agar tidak terbuang percuma menjadi salah satu aspek yang mendorong terwujudnya ketahanan pangan berkelanjutan.

Menurut Nita, keilmuan yang dikembangkan di FEMA IPB memiliki keterkaitan erat dengan isu pangan, mulai dari aspek ketersediaan, konsumsi, hingga pemenuhan gizi masyarakat. Karena itu, kolaborasi antara pemerintah dan perguruan tinggi menjadi hal yang penting untuk terus diperkuat.

Dalam kesempatan tersebut, Nita juga memaparkan sejumlah program yang saat ini dijalankan pemerintah bersama akademisi. Salah satunya penguatan Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi sebagai early warning system bagi pemerintah pusat dan daerah dalam mendeteksi potensi kerawanan pangan.

Tak hanya membahas program, Nita turut berbagi pengalaman perjalanan karier serta tantangan profesional yang dihadapi selama berkecimpung di bidang pangan, khususnya dalam mengawal isu kewaspadaan pangan nasional.

Sejalan dengan itu, Dekan FEMA IPB Sofyan Sjaf menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki peran penting dalam mendukung kebijakan pangan nasional. Menurutnya, kontribusi akademisi tidak hanya berhenti pada kajian ilmiah, tetapi juga perlu hadir dalam perumusan kebijakan hingga implementasi di lapangan.

“Isu pangan sangat kompleks dan membutuhkan pendekatan lintas disiplin. Di sinilah peran akademisi untuk menjembatani ilmu pengetahuan dengan kebutuhan nyata masyarakat,” ujar Sofyan.

Kegiatan ini turut dihadiri Wakil Dekan FEMA IPB, serta narasumber dari EIGER Adventureland dan United Nations Development Programme (UNDP). (Rls)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *